Sejarah

SMA Dwija Praja Pekalongan adalah sebuah sekolah Menengah Lanjutan Atas yang berada dibawah Yayasan Dwija Praja yang dulu bernama Yayasan Pendidikan Dwija Praja. Ditinjau dari letak geografis, Sekolah ini berada di jantung kota Pekalongan yang dikelilingi oleh Perkantoran, Kampus, Rumah sakit, Jalan Raya Utama, dan perumahan. Oleh karena itu Lokasi SMA Dwija Praja Kota pekalongan tentu sangat mudah terjangkau oleh peserta didik yang datang dari arah manapun dengan mudah.

Dulu Bernama SMA Pemda

Awal berdirinya SMA Dwija Praja sendiri dulu bernama SMA Pemda pekalongan dimana proses kegiatan belajar mengajarnya pada siang hari dan menempati gedung SMA Negeri 1 Pekalongan di jalan kartini Kota Pekalongan. Tepatnya pada tanggal 1 Juli 1981 SMA Pemda mulai menerima pendaftaran siswa baru dan bertempat di SMA Negeri 1 Pekalongan. Berdirinya SMA Pemda waktu itu memang sangat didambakan oleh masyarakat, karena di kota pekalongan sendiri hanya ada satu SMA yaitu SMA Negeri 1 Pekalongan yang lebih dikenal dengan nama SMA Kartini.

Karena tenaga guru pada waktu itu masih sangat sedikit, maka sebagian besar pengajarnya diambilkan dari guru-guru SMA Negeri 1 Pekalongan dan sebagian lagi merupakan guru baru termasuk juga diambilkan dari pegawai pemda yang diperbantukan di SMA Pemda

Meskipun Pertama berdiri, namun SMA pemda waktu itu langsung menerima lima kelas dengan sistem penerimaan menggunakan tes seleksi. Siswa yang mendaftar langsung menerima kartu tes, dan guru-guru yang sebagian besar dari SMA negeri 1 menyiapkan soal, ruang, pengawas tes, dan segala sesuatunya agar proses seleksi penerimaan siswa baru SMA Pemda dapat berjalan dengan lancar. Proses penerimaan siswa dimulai tanggal 6 – 15 Juni 1981 jam 14.00 sampai dengan jam 17.30.

Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru  dan Koreksi.

Setelah proses pendaftaran selesai, seluruh pendaftar Calon murid baru SMA Pemda kemudian mengikuti seleksi penerimaan siswa yang dilakukan pada siang hari di gedung SMA Negeri 1 Pekalongan dengan pengawas sebagian besar diambilkan dari SMA tersebut ditambah dengan guru baru dan pegawai dari Pemda. Mata Pelajaran yang di tes kan antara lain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, matematika, IPA, dan IPS dengan bentukl soal  Pilihan ganda. Proses pelaksanaan kegiatan seleksi berjalan dengan lancar, demikian pula proses koreksi.

Pelaksanaan koreksi dilakukan secara serempak di salah satu kelas di SMA Negeri 1 Pekalongan. Suasana serius tampak di seluruh wajah bapak/ibu guru yang melakukan koreksi lembar jawaban calon siswa baru SMA pemda waktu itu. Koeksi lembar jawaban dilakukan sesuai prosedur yang diterapkan pada waktu itu dan berakhir sampai larut malam. Hasil koreksi lembar jawab calon siswa baru tersebut kemudian diserahkan kepada panitia untuk direkap dan kemudian melalui hasil rapat diputuskan nama-nama murid yang diterima di SMA Pemda.

Pengumuman Hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru

Pelaksanaan tes dan Koreksi telah selesai dilakukan oleh Panitia, Rapat penentuan murid yang diterima juga telah diputuskan melalui rapat panitia. Tibalah saatnya pengumuman pendaftar yang diterima. Suasana tegang tampak di wajah para pendaftar yang sebagian besar menunggu di luar gedung SMA Negeri 1 Pekalongan sejak pukul 13.00, karena di dalam gedung masih berjalan kegiatan untuk SMA Negeri 1 Pekalongan. Wajah ceria tampak bagi pendaftar yang diterima, sedang yang tidak diterima harus menerima kenyataan. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat berlawanan dengan kondisi saat ini dimana sekolah justru menunggu siswa yang mendaftar. itulah realita yang perlu kita cari jawabannya, Kenapa, mengapa, dan bagaimana bisa seperti ini sekarang ?

Hari Pertama masuk sekolah SMA Pemda

Tidak seperti halnya sekarang, awal tahun pelajaran bagi siswa baru diisi dengan Massa orientasi Siswa atau dikenal dengan sebutan MOS. Maka pada saat itu Hari-hari pertama masuk sekolah  diisi dengan penataran P4 ( Pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila) selama satu minggu.

Seperti kita tahu bahwa sampai di akhir pemerintahan Orde Baru, setiap kali penerimaan siswa baru, dari SD sampai perguruan tinggi, ada menu wajib yang harus dilalui. Yaitu penataran P4. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila sebagaimana dirumuskan dalam TAP MPR No.II/1978. Untuk siswa baru biasanya menerapkan pola 10 jam.

Materi penataran ini paling tidak merupakan penyampaian pengetahuan mengenai P4, UUD 45 dan GBHN. Juga kebijakan pemerintahan. Atau keberhasilan pembangunan pemerintahan Orde Baru dan bahaya laten komunisme di Indonesia. Atau sudahkah peserta penataran menghafalkan  36 butir Pancasila sekaligus mengamalkannya.

Menurut pemerintah waktu itu, penataran P4 bisa disebut sebagai semacam ‘opstib mental’, semacam persuasi. Sistim demokrasi selalu mengenal persuasion dan coercion, bujukan dan paksaan, yang merupakan dua sayap dari satu ide. Dan penataran P4 inilah merupakan persuasionnya. Dan setelah ditatar, orang jadi lebih tahu tentang Pancasila sudah sesuai dengan Pancasila atau belum selama tindakannya.

Penataran P4 baru bisa disebut berhasil bila setelah ditatar, tingkah-laku peserta sehari-hari sudah satu dalam kata dan perbuatan. Juga membentuk manusia Indonesia yang Pancasilais. Apa itu manusia Pancasilais? Pancasilais itu setidaknya beriktikad baik, disiplin. Pokoknya republikein. Juga penataran P4 bisa mendidik  menghormati pendapat orang lain, berusaha mengerti tanpa melukai hati, dan sabar.

Masih ingat apa isi 36 butir-butir Pancasila ? anak sekarang mungkin tidak pernah mendengar apa itu butir-butir Pancasila. Padahal menurut admin saat ini justru sangat dibutuhkan, karena admin berpendapat rasa nasionalisme seseorang sekarang semakin luntur, Oleh karena itu tepat apa yang diresahkan oleh Bapak gubernur Jawa tengah tentang menurunnya jiwa nasionalisme di lingkungan pendidikan. Kita dukung Bapak gubernur Kita, agar setiap pendidik, peserta didik dan setiap warga masyarakat di jawa tengah ini menjadi motor penggerak jiwa nasionalisme.

Yuk…kita tumbuhkan Semangat Nasionalisme di lingkungan pendidikan. Untuk yang ingin mengenang atau mengetahui isi 36 butir Pancasila, silakan klik disini.

Pembagian tugas Mengajar

Setelah seluruh murid mengikuti kegiatan penataran P4, maka tibalah minggu kedua dimana kegiatan proses belajar mengajar dimulai secara efektif.  Jadwal pelajaran diberikan kepada murid pada hari terakhir penataran oleh panitia. Proses penyusunan jadwal tentu disesuaikan dengan tugas bapak/ibu guru yang sebagian besar adalah guru dari SMA Negeri 1 Pekalongan. Oleh karena itu sebelum menyusun jadwal pelajaran, sekolah mengadakan Rapat pembagian tugas terlebih dahulu yang dipimpin langsung oleh kepala sekolah didampingi oleh wakil kepala sekolah bagian kurikulum. kurikulum yang digunakan pada waktu itu adalah kurikulum  1975 .  Dalam kurikulum 1975 nama mata pelajaran PKN berubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

Tujuan pendidikan dan pengajarannya pada waktu itu meliputi Tujuan Pendidikan Umum, Tujuan Institusional, Tujuan Kurikuler, Tujuan Instruksional Umum, dan Tujuan Instruksional Khusus. Orientasi pelajarannya adalah Keseimbangan antara kognitif, keterampilan dan sikap. Keseimbangan antara pelajaran teori dan praktek  menunjang pada ketercapaian tujuan pendidikan dan pengajaran dansementara itu organisasi kurikulumnya meliputi dua aspek yaitu Pendekatan bidang studi program yang terdiri dari : Program umum, akademik/kejuruan, dan pendidikan keterampilan. Sedangkan prinsip penilainnya meliputi : Penilaian sumatif dan formatif, TPB, EBTA, EBTANAS.

Kegiatan Belajar Mengajar

Kegiatan belajar mengajar SMA Pemda kotamadya pekalongan dimulai setelah satu minggu semua murid baru melaksanakan kegiatan penataran P4 (Pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila).  Tentu ada sesuatu yang baru di dalam proses kegiatan belajar mengajar yang dirasakan oleh guru-guru yang berasal dari SMA Negeri 1 Pekalongan. Bukan karena input murid yang berbeda, tetapi juga kemampuan intelektual yang dimiliki murid SMA Pemda juga bersifat heterogen dengan latar belakang, karakteristik dan lingkungan pergaulan siswa yang mungkin berbeda dibandingkan  dengan murid di SMA 1 pekalongan.

Namun sebagai seorang pendidik, tentu Bapak/Ibu guru tidak membedakan satu sama lain dalam hal mentransfer ilmu kepada murid-murid, meskipun barangkali sedikit lebih ekstra dibandingkan ketika harus mengajar di SMA Negeri 1 Pekalongan. Tetapi ini justru membuahkan sebuah pengalaman baru bagi bapak/ibu guru yang biasa mengajar di depan murid-murid dengan input yang tinggi. Barangkali justru di SMA Pemdalah bapak/ibu guru ini betul-betul memiliki fungsi sebagai guru yang sesungguhnya, karena di sini beliau bukan saja mentransfer ilmu tetapi justru lebih banyak ke unsur pendidikan yang sebenarnya.

Menurut Prof. dr. Daoed Yoesoef (Mantan menteri Pendidikan), bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (sivic mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika.

Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak.
Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri.

Dua Tahun Berjalan

Pada tahun kedua ( 1982) SMA Pemda mulai unjuk gigi, segenap siswa tidak mau kalah dengan SMA yang pagi, Jika tidak bisa menandingi di bidang pengetahuan tentu ada sisi lain yang bisa lebih di unggulkan. Maka dengan semangat belajar bersama mulailah siswa mengekspresikan diri di bidang lain, seperti olah raga, kesenian, keterampilan, dan lain-lain, meski tidak menutup mata ada juga yang justru membuat image SMA pemda menjadi SMAnya anak-anak nakal, tetapi satu hal yang perlu diketahui itu hanya perbuatan segelintir siswa, meski akibatnya harus ditanggung satu lembaga yaitu SMA Pemda.

Seperti Biasa dalam rangkaian kegiatan peringatan hari kemerdekaan, kotamadya pekalongan waktu itu selalu mengadakan kegiatan yang dilombakan, seperti lomba jalan cepat, lomba samroh, lomba cerdas cermat P4, dan lomba-lomba lain yang pesertanya adalah seluruh sekolah di kotamadya Pekalongan. Sebagai sekolah yang baru berusia 2 tahun, SMA pemda tidak mau ketinggalan untuk ikut berperan serta dalam kegiatan lomba tersebut. Maka mulailah dilakukan persispan untuk menyambut kegiatan yang lebih dikenal dengan sebutan tujuhbelasan.

Tida hanya itu, dalam rangka resepsi Tujuh belasan, SMA pemda juga tidak mau ketingglan untuk ikut mengisi acara, di antaranya menampilkan Drama, tarian, baca puisi dan lain-lain. Yang penting semua kemampuan akan ditunjukkan kepada masyarakat bahwa SMA pemda tidak sejelek yang dikira.

Masihkah acara ini dapat kita nikmati di jaman teknologi yang katanya semakin canggih ini ? Dimanakah jiwa nasionalisme kita sekarang, disimpan di HP atau facebook ? Tidak perlukan nilai-nilai jiwa nasionalisme seperti ini tetap kita tanamkan kepada generasi muda melalui jalur pendidikan ? Kenapa pemerintah harus menggembar-gemborkan untuk meningkatkan jiwa nasionalisme, sementara nilai-nilai yang baik yang pernah ada justru hilang tanpa bekas. Benarkah pemerintahan orde baru semuanya jelek ? Apakah sekarang lebih baik ? Semua tergantung kita dari sisi mana kita mau menjawabnya. Yang jelas kesempurnaan hanya akan terwujud bila satu sama lain saling melengkapi.

Tahun 1983 SMA Pemda Kehilangan Sosok pemimpin.

Inalillahi wa ina illahi Roji’un. Telah meninggal dunia Bapak Iskandar, Kepala SMA Pemda Pekalongan. Segenap guru, karyawan, murid, dan keluarga besar SMA pemda merasa kehilangan sosok kepala sekolah yang selama ini didambakan. Selamat jalan bapak iskandar, Selamat jalan kepala sekolahku, Selamat jalan pahlawanku, Jasamu tetap ku kenang, kata-katamu tetap ku ingat, langkahmu dalam menahkodai  SMA Pemda selalu menjadi saksi bisu sejarah pendidikan di kotamadya  (sekarang kota) Pekalongan.

Sepeninggal Bapak iskandar untuk mengisi kekosongan kepala sekolah SMA pemda, maka diangkat Bapak Bahit sebagai PLT Kepala SMA Pemda sambil menunggu penetapan kepala sekolah baru.

Berubah Nama Menjadi SMA Dwija Praja Pekalongan

Keberadaan SMA pemda di SMA negeri 1 Pekalongan semakin lama semakin membuat rasa tidak enak, lebih lebih jumlah siswa SMA pemda yang semakin banyak, beberapa tempat seperti daerah pragak menjadi alternatif untuk ditempat sebagai ruang belajar murid. Hal ini dirasakan oleh Walikota Pekalongan saat itu Bapak  Joko Prawoto.

Untuk menjadikan sekolah Pemda ini lebih profesional, akhirnya Bapak Wali kota memanggil beberapa pakar pendidikan yang terdiri dari mantan pengawas sekolah seperti Bapak Drs. mochsin, Bapak Drs. Nurhasyim, Bapak. Sutigwo (Mantan Kepala Dinas P dan K ), dan beberapa dari pemda seperti Bapak  Sumarno (Sekretasis daerah), dan jajarannya. beberapa pejabat lain yang dipandang perlu. Dari beberapa hasil pertemuan tersebut, akhirnya diputuskan untuk mengubah nama SMA Pemda menjadi SMA Dwija Praja Pekalongan. Nama “Dwija Praja” sendiri diambil dari dua kata yaitu “Dwija” yang artinya guru, dan “Praja” yang artinya pemerintah. Jadi Dwija praja adalah yayasan yang didirikan oleh guru (diwakili mantan pengawas) dan pemerintah.

Sampai pada akhirnya tahun 1983, SMA Pemda akhirnya berubah menjadi nama  SMA Dwija Praja, yaitu sebuah SMA Swasta nasional di bawah yayasan pendidikan Dwija Praja dengan ketua yayasan waktu itu Bapak Sutigwo, B.A. dan kegiatan belajarnya berpindah di  daerah bening sari (sekarang Jalan Sriwijaya), dimana sebagian murid menempati gedung baru dan sebagian lagi menempati gedung SD di depannya.

SMA Dwija Praja di era-90 an….

bersambung…

_________________________________________

Catatan :

Deskripsi sejarah SMA Dwija Praja ini disusun atas dasar wawancara semata, untuk itu tanpa mengurangi rasa hormat bagi mantan siswa, mantan pendidik atau siapapun yang lebih mengetahui secara detil tentang perjalanan sejarah SMA Dwija Praja mohon atas koreksinya apabila ada yang tidak pas. Adapun dokumen foto diambil dari arsip sekolah yang discan dengan menggunakan Canoscan N640P pda tahun 2002.

Satu Tanggapan

  1. Sudah, banyak makan asam garam, semoga dapat bangkit kembali ke masa kejayaannya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: