Pendidikan Kecakapan Hidup dan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global.

Sejak digulirkannya SMA Dwija Praja berbasis multimedia, Pendidikan kecakapan hidup  menjadi bagian terpisahkan dari pendidikan semua mata pelajaran, meskipun implementasi hasil dapat terintegrasi terhadap semua mata pelajaran . Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik pada setiap hari sabtu yang disebutnya sebagai komputerday. Karena merupakan bagian yang terpisah dari mata pelajaran, maka pendidikan kecapakan hidup di SMA Dwija Praja Pekalongan  termasuk ke dalam mata pelajaran baru dan dilaksanakan dengan menambh struktur  kurikulum.

Adapun strategi untuk melaksanakan Pendidikan Kecakapan Hidup yang terintegral dalam mata pelajaran  di SMA Dwija Praja, yaitu :

1.      Reorientasi pembelajaran.

         Reorientasi pembelajaran artinya dengan kurikulum yang ada pembelajaran diorientasikan kepada pengembangan kecakapan hidup. Untuk memudahkan itu, sebelum guru menyusun Rencana Pembelajaran lebih dahulu perlu memastikan, kecakapan hidup apa yang ingin dikembangkan bersama pokok bahasan/topik tersebut.

         Missal : ketika membahas pokok bahasan Tata Surya, Guru dapat mengembangkan aspek kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan, kecakapan menggali informasi dan mengolah informasi, serta kecakapan komunikasi lisan.

2.      Pengembangan Budaya Sekolah

         Karena pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah, di iuar kelas, bahkan di keluarga dan di masyarakat. Bahkan seringkali proses belajar untuk hal-hal yang bersifat nilai (value) dan motivasi, iebih banyak terjadi dalam interaksi di Iuar kelas. Oleh karena itu situasi di sekolah (iklim sekolah) harus diupayakan menjadi wahana penumbuhan nilai-nilai yang positif dan motivasi belajar siswa. Jika dikaitkan dengan aspek-aspek kecakapan hidup, maka pengembangan aspek kesadaran diri, akan lebih efektif jika didukung oleh contoh sehari hari yang dapat diamati dan dirasakan di sekolah. Jika kejujuran, disiplin, toleransi, kerja keras, dan saling tolong-menoiong terwujud dalam kehidupan sehari-hari di sekolah (telah menjadi iklim sekolah), dapat diharapkan siswa akan terdorong untuk melakukannya.

3.      Manajemen Sekolah.

         Reorientasi pembelajaran dan pengembangan budaya sekolah yang seiaras dengan Pendidikan Kecakapan Hidup, pada akhirnya dikendalikan oleh manajemen sekolah. Oleh karena itu manajemen sekolah juga merupakan wahana sangat penting untuk mendukung reorientasi pembelajaran dan pengembangan budaya sekolah tersebut.
Hal ini mengingat bahwa kondisi anak didik SMA Dwija Praja sangat heterogen, sehingga pelayanannya juga tidak dapat diseragamkan. Oleh karena itu prinsip manajemen sekolah dapat diarahkan untuk mendorong pengembangan kecakapan hidup sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah. Di dalam konteks ini termasuk, memberi peluang kepada guru untuk mengelola pembelajaran yang mampu mengembangkan kecakapan hidup. Demikian pula untuk pengembangan budaya sekolah, harus disesuaikan budaya masyarakat yang kini sudah ada. Yang penting budaya itu disempurnakan, melalui pengembangan iklim sekolah yang dibarengi penumbuhan pemahaman akan nilai-nilai di balik iklim sekolah yang dilaksanakan.

I.       Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal

Agar  program pendidikan berbasis keunggulan lokal di SMA Dwija Praja dapat terlaksana, maka program pembelajarannya harus menjadi bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan, dengan alternatif pelaksanaan Pembelajaran dilaksanakan melalui mata pelajaran Seni Budaya dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar (SK/KD) dikembangkan sendiri sesuai dengan kebutuhan.  Adapun Pendidikan Keunggulan lokal yang diberikan di SMA Dwiija Praja dan terintragrasi dengan mata pelajaran seni budaya adalah desain seni batik dengan menggunakan perangkat komputer. Karena Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal adalah program pembelajaran yang diselenggarakan dengan memanfaatkan berbagai sumber daya dan potensi daerah yang bermanfaat bagi siswa dalam proses pengembangan kompetensi, maka dalam penyusunan SK/KD mempertimbangkan :

1. Potensi daerah

         Yaitu suatu aset yang dimiliki oleh satu daerah tertentu yang dapat memberikan nilai benefit (kemanfaatan) dan nilai effektif (kemudahan) bagi daerah itu sendiri.

2.      Keunggulan lokal

Keunggulan lokal adalah segala sesuatu yang merupakan ciri khas kedaerahan yang mencakup aspek aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain.

2. Ciri Khas Daerah

                  Ciri khas kedaerahan adalah suatu bentuk kegiatan atau produk yang hanya terdapat pada satu daerah/lokal dan tidak terdapat pada daerah lainnya

3. Kebutuhan Daerah

Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di satu daerah untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf hidup masyarakat daerah tersebut.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka pada tahun pelajaran 2009/2010 SMA Dwija Praja melaksanakan pendidikan keunggulan lokal Desain Batik yang pelaksanaannya terintegrasi pada mata pelajaran seni dan budaya.

Karena terintegrasi dalam mata pelajaran seni dan budaya, maka semua siswa harus mengikuti pembelajaran secara komprehensif mulai kelas X sampai dengan kelas XII.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: